Ekspor Nonmigas Juni 2026 Capai USD24,39 Miliar, Defisit Perdagangan Menyempit Jadi USD450 Juta

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:27:31 WIB
Nilai ekspor nonmigas Indonesia mencapai USD24,39 miliar pada Juni 2026, naik dari USD22,45 miliar pada Mei 2026.

DI YOGYAKARTA — Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor nonmigas mencapai USD24,39 miliar pada Juni 2026, naik dari USD22,45 miliar pada Mei 2026. Perbaikan ini memangkas defisit neraca perdagangan total dari posisi USD1,61 miliar di bulan sebelumnya.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia masih bertahan di zona surplus. Sepanjang Januari–Juni 2026, surplus tercatat USD3,58 miliar, ditopang kinerja nonmigas yang membukukan surplus USD19,35 miliar. Adapun sektor migas masih menjadi beban dengan defisit USD15,77 miliar.

Harga Minyak dan Biaya Impor Jadi Pemicu Utama Defisit

Tekanan terbesar terhadap neraca dagang berasal dari melonjaknya harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut harga minyak yang sempat melampaui USD100 per barel pada April–Mei 2026 mendongkrak biaya impor energi secara substansial.

Dampaknya terlihat dari kenaikan nilai satuan impor. Untuk total komoditas migas dan nonmigas, nilai impor per ton meningkat dari USD907 pada Maret 2026 menjadi USD1.036 pada Juni 2026, atau naik 14,24 persen.

Strategi Pemerintah: Perluas Pasar dan Cetak Eksportir Baru

Pemerintah merespons tekanan tersebut dengan mempercepat agenda perluasan pasar ekspor. Budi menegaskan kementeriannya akan menjaga momentum pertumbuhan dengan membuka akses pasar baru dan menciptakan eksportir-eksportir potensial.

"Artinya, neraca perdagangan kita mulai membaik seiring dengan peningkatan ekspor. Kemendag akan terus mendorong peningkatan ekspor, termasuk melalui perluasan pasar ekspor dan pencetakan eksportir baru untuk menjaga surplus," ujar Budi.

Saat ini Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian perdagangan. Sebanyak dua perjanjian lainnya masih dalam proses ratifikasi, sementara 13 perjanjian masih dalam tahap perundingan.

Selain itu, Kemendag mengoperasikan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara untuk memperluas jangkauan pasar, termasuk mendorong produk UMKM masuk ke rantai pasok global.

Digitalisasi Sertifikat Asal untuk Percepatan Ekspor

Untuk mempermudah arus barang, pemerintah mengembangkan sistem elektronik e-SKA yang mengotomatisasi penerbitan Surat Keterangan Asal preferensi. Sistem ini telah diterapkan untuk ekspor ke Uni Emirat Arab, Jepang, China, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan.

Adapun total nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai USD25,46 miliar, tumbuh 9,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Volume ekspor juga meningkat 3,31 persen menjadi 56,52 juta ton.

Sepanjang semester pertama tahun ini, akumulasi ekspor mencapai USD140,81 miliar, naik 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah berharap penguatan akses pasar dan diversifikasi tujuan ekspor mampu memperbesar kontribusi sektor nonmigas terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: vibizmedia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top