YOGYAKARTA — Ruang ekspresi seniman di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tetap dibuka, tetapi frekuensi kegiatannya menyusut. Efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah membuat lembaga kebudayaan ini harus beradaptasi dengan memangkas volume sejumlah program dan melibatkan lebih sedikit kurator.
Kepala TBY Purwiati mengungkapkan, pengurangan event mencapai 25 hingga 30 persen. Kegiatan yang sebelumnya digelar lima kali kini hanya dilakukan tiga kali. Program pelatihan anak-anak yang biasanya berlangsung 28 kali juga dipangkas menjadi sekitar 25 kali.
Persoalan tidak berhenti di anggaran. TBY kini hanya diperkuat sekitar 25 personel, terdiri dari 11 tenaga kontrak dan sisanya Aparatur Sipil Negara (ASN). Padahal, lembaga ini harus mengelola ruang besar sekaligus menjalankan fungsi administrasi, pelayanan publik, pengelolaan teknis, hingga fasilitasi kegiatan seni budaya.
"Bagaimana kebutuhan SDM ini bisa memenuhi standar layanan publik? Kebutuhannya bukan hanya administratif, tetapi juga teman-teman teknis yang melaksanakan kegiatan," ujar Purwiati di sela Pameran Fotografi Rana Budaya #4 bertajuk "FYP (For Your People)" di TBY, Kamis (13/8/2026).
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya pegawai yang memasuki masa pensiun. Bulan ini saja dua pegawai purna tugas, dan dua lainnya menyusul tahun depan.
Efisiensi juga menyentuh tenaga profesional yang menjaga mutu karya. Jumlah kurator yang biasanya lima orang kini hanya tiga orang. Menurut Purwiati, kurator bukan sekadar pelengkap kegiatan, melainkan memastikan kualitas karya, terutama dalam pameran.
"Peran kurator itu sangat penting untuk menjaga kualitas karya," tegasnya.
Untuk fungsi pertunjukan, kualitas tetap dijaga melalui keterlibatan narasumber kompeten dari kalangan praktisi maupun akademisi.
Di tengah keterbatasan, TBY tetap menyelenggarakan Pameran Fotografi Rana Budaya #4 bertajuk "For Your People" pada 14 hingga 23 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa ruang ekspresi seniman tidak ditutup, meski skalanya lebih kecil.
Purwiati berharap anggaran kembali membaik pada tahun mendatang. Sebab, Taman Budaya bukan hanya gedung pertunjukan, melainkan ruang bagi seniman untuk menuangkan gagasan, berekspresi, dan mengembangkan karya.