YOGYAKARTA — Level 6.000 ditempatkan sebagai area penopang penting untuk menjaga momentum pemulihan indeks. Sebelum berbalik menguat, IHSG sempat tertekan hingga menyentuh level 5.995, lalu bangkit dan bertahan di atas level psikologis tersebut.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menyebut level 6.215 sebagai sasaran penguatan jangka pendek yang perlu dicermati investor. Pergerakan indeks pada rentang itu tetap dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan indikator teknikal.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pembicaraan dengan Iran menjadi salah satu sentimen eksternal yang menopang pasar. Trump menyatakan sedang melakukan pembicaraan dengan Iran dan tidak akan melancarkan serangan terhadap negara tersebut sebelum pemilihan umum sela.
Ia juga menyebut pengiriman minyak mentah dalam jumlah besar tengah melintasi Selat Hormuz. Perkembangan itu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi dunia.
Sebelumnya, potensi gangguan pasokan dikhawatirkan mendorong kenaikan harga minyak dan menekan sentimen investor. Penurunan harga minyak di tengah meredanya ketegangan geopolitik AS-Iran turut menjadi faktor pemulihan indeks.
"Dengan mempertimbangkan kombinasi sentimen eksternal dan indikator teknikal tersebut, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.000–6.215 pada pekan depan," tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas, Jumat (9/10/2026).
Kondisi ekonomi domestik turut menjadi perhatian dalam membaca arah pergerakan IHSG. Penjualan ritel Indonesia tumbuh 1,3 persen secara tahunan atau year on year (YoY) pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 1,1 persen pada Juli 2026.
Nilai tukar rupiah juga mengalami penguatan. Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), rupiah menguat 0,21 persen ke level Rp17.884 per dolar AS.
Perbaikan pertumbuhan penjualan ritel menjadi salah satu perkembangan ekonomi domestik yang menyertai pergerakan pasar saham pada akhir pekan ini.
Investor dapat mencermati level 6.215 sebagai sasaran penguatan jangka pendek berdasarkan proyeksi Phintraco Sekuritas. Bertahannya indeks di atas area 6.000 dinilai penting untuk menjaga momentum pemulihan setelah tekanan hingga level 5.995.
Perkembangan hubungan AS dan Iran, pergerakan harga minyak, kondisi rupiah, serta indikator teknikal menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam memantau arah IHSG pekan depan.
Rentang 6.000–6.215 merupakan proyeksi pergerakan indeks, bukan kepastian bahwa IHSG akan mencapai level tertentu pada pekan depan.