Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta Erni Saharuddin menilai pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan edukasi gizi, tetapi perlu dibarengi kemampuan keluarga menyediakan pangan bergizi secara mandiri. Penilaian itu disampaikan Erni di Yogyakarta, Jumat, merujuk prevalensi stunting nasional yang masih 19,8 persen berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia 2024. Pemerintah menargetkan angka itu turun menjadi 14,2 persen pada 2029.
YOGYAKARTA — Erni menyoroti bahwa Kementerian Kesehatan memperkirakan sekitar 4,4 juta balita masih mengalami stunting pada 2024. Menurutnya, angka itu menunjukkan persoalan gizi anak belum selesai meski berbagai program edukasi sudah berjalan bertahun-tahun.
Stunting, kata Erni, bukan sekadar soal asupan makanan. Kondisi ini berkaitan dengan masa kehamilan, kualitas gizi ibu dan anak, pola pengasuhan, sanitasi, akses layanan kesehatan, hingga kemampuan keluarga menjangkau pangan bergizi.
Karena itu, penanganannya tidak bisa dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, pemantauan tumbuh kembang balita, akses air minum layak, dan pendampingan keluarga berisiko stunting sama-sama berperan.
Erni menegaskan pencegahan stunting semestinya tidak berhenti pada penyuluhan. Masyarakat perlu diberdayakan agar mampu menerapkan pengetahuan gizi dalam kehidupan sehari-hari.
"Penguatan kemampuan keluarga menyediakan pangan bergizi secara mandiri dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun pencegahan stunting yang lebih berkelanjutan," kata Erni.
Gagasan itu diterjemahkan lewat Program Tangkas Gizi atau "Tangguh Atasi Stunting dan Advokasi Kesehatan Gizi". Program pengabdian masyarakat ini diketuai Erni bersama anggota Nor Eka Noviani dan Nur Fitri Mutmainah, dengan pendanaan dari DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
Kegiatannya berlangsung dalam sejumlah rangkaian pada 6 Juli hingga 2 Agustus 2026, melibatkan kader PKK Padukuhan Gentingan, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman.
Peserta tidak hanya menerima materi gizi seimbang. Mereka diajak mempraktikkan pengolahan makanan dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber pangan keluarga.
Salah satu pendekatannya melalui konsep Isi Piringku. Peserta diajak memahami komposisi makanan beragam sekaligus melihat pangan bergizi bisa disusun dari bahan yang dekat dengan keseharian.
"Yang penting bukan hanya masyarakat mengetahui makanan bergizi, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam rutinitas rumah tangga," ujar Erni.
Metode learning by doing dipakai dalam kegiatan pengolahan pangan. Setelah mendapat edukasi gizi seimbang, peserta mempraktikkan pembuatan sosis rumahan berbahan dasar daging.
Latihan itu menjadi sarana belajar memilih bahan pangan, mengolah makanan secara higienis, sekaligus menyediakan alternatif sumber protein di tingkat keluarga.
Program Tangkas Gizi juga mendorong warga memanfaatkan pekarangan. Peserta dilatih budidaya ayam petelur sistem kandang baterai, termasuk pengelolaan pakan dan sanitasinya.
Warga diajarkan mengolah kotoran ayam agar tidak menimbulkan bau dan mencemari lingkungan. Dengan begitu, hasil panen telur aman dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani keluarga.
Untuk mengoptimalkan lahan terbatas, peserta diperkenalkan teknik menanam sayuran cepat panen seperti bayam, sawi, dan kangkung menggunakan rak tanam vertikal.
"Telur tidak harus selalu dibeli dari luar. Sayuran tidak selalu bergantung pada pasar. Sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari lingkungan rumah sendiri," katanya.
Erni menilai keberadaan kader PKK menjadi bagian penting dalam program ini. Program pemberdayaan akan sulit berkelanjutan jika seluruh kegiatan masih bergantung pada pendamping dari luar masyarakat.
Melalui penguatan kader yang dekat dengan warga dan memiliki jaringan sosial luas, masyarakat diharapkan punya aktor lokal untuk meneruskan pesan kesehatan. Kader juga menjaga keberlangsungan kegiatan setelah pendampingan selesai.