TBY dan Kemenbud Gelar Pesta Cerita 9 Oktober 2026, 5 Penulis Muda DIY Raih Penghargaan

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:51:31 WIB
Panggung Pesta Cerita di Taman Budaya Yogyakarta, 9 Oktober 2026.

Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bersama Kementerian Kebudayaan menggelar puncak perayaan sastra bertajuk Pesta Cerita di TBY pada 9 Oktober 2026. Acara ini menjadi pamungkas rangkaian Program Tutur Tumurun 2026 yang berlangsung sejak Juli dan diikuti 75 penulis muda DIY berusia 17–35 tahun. Lima karya terbaik dari 10 nominasi akan diganjar penghargaan sekaligus dibukukan dalam antologi Tutur Tumurun Jilid II.

YOGYAKARTA — Kepala TBY Purwiati menyatakan Pesta Cerita menjadi ajang pertanggungjawaban karya sekaligus penganugerahan bagi peserta yang telah berproses sejak Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Selebrasi Sastra Seni Budaya Tahun Anggaran 2026 yang didukung Dana Alokasi Khusus Nonfisik-BOP Museum dan Taman Budaya.

Dari total 75 naskah cerpen karya penulis muda Daerah Istimewa Yogyakarta, terpilih 10 karya nominasi yang kemudian disaring menjadi lima karya terbaik. Pada malam puncak, TBY akan menyerahkan penghargaan kepada juara 1–3 dan juara harapan 1–2.

Folklor Lokal Jadi Fondasi Program Tutur Tumurun

Purwiati menegaskan tradisi lisan punya posisi penting dalam perekaman memori kolektif bangsa. "Tradisi lisan bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan wahana penting bagi perekaman memori kolektif suatu bangsa. Di dalamnya tersimpan pengetahuan dan sejarah yang menjadi bagian dari identitas kita," katanya.

Melalui penutupan Program Tutur Tumurun 2026, TBY menegaskan kembali ikhtiar kebudayaannya dalam menggali folklor lokal sekaligus pembinaan terhadap regenerasi penulis muda di DIY.

"Program Tutur Tumurun hadir sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin yang memadukan sains kebumian dengan khazanah kearifan lokal DIY lewat sudut pandang geomitologi," kata Purwiati.

Geomitologi, Pendekatan Sains dan Mitos dalam Sastra

Direktur Program Tutur Tumurun Latief S Nugraha menjelaskan bentang alam Yogyakarta kaya akan warisan budaya yang bertaut langsung dengan situs-situs kebumian dan landasan filosofis berdirinya Nagari Ngayogyakarta.

"Geomitologi mengkaji bagaimana budaya masa lalu mencatat lanskap dan fitur geologi. Di balik mitos fenomena alam, tersimpan pengetahuan serta alat komunikasi masyarakat lampau. Sastra dalam konteks ini hadir sebagai sains yang dituturkan dengan bahasa yang lain," katanya.

Dewan Juri: Naskah Peserta Menyusuri Yogyakarta dalam Peta Mitologis

Mewakili dewan juri, Hasta Indriyana menyebut membaca puluhan naskah sayembara ini bagai menyusuri Yogyakarta dalam peta mitologisnya. Beberapa naskah dinilai menunjukkan kecakapan tak hanya dalam bercerita, tetapi juga menafsir tema ke pokok persoalan yang lebih beragam.

"Tempat-tempat yang selama ini kita hafal dalam rute geografis seperti mendapatkan jiwa melalui cerita di balik batu, gunung, jalanan, tanah, air, dan roh-roh yang bertutur. Beberapa naskah menunjukkan kecakapan tak hanya dalam bercerita, tetapi juga menafsir tema ke pokok persoalan yang lebih beragam seperti identitas, kesenian, sejarah, gender, hingga kekerasan," katanya.

Antologi Tutur Tumurun Jilid II Diluncurkan

Pada malam puncak, TBY juga meluncurkan buku antologi Tutur Tumurun Jilid II. Buku ini merangkum lima karya pemenang beserta 15 cerita pendek karya pilihan juri.

Rangkaian Program Tutur Tumurun 2026 mencakup penulisan dan penjelajahan kreatif yang berlangsung sejak Juli. Pesta Cerita di TBY menutup seluruh proses tersebut sekaligus menandai pembinaan regenerasi penulis muda DIY yang berlanjut ke edisi berikutnya.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top