DI YOGYAKARTA — PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) menyalurkan shareholder loan hingga Rp4 triliun kepada dua anak usahanya, PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC). Fasilitas yang diteken 6 Oktober 2026 itu memakai bunga 7 persen per tahun dan jatuh tempo 31 Desember 2028. Pinjaman ini menopang pembangunan data center di Jababeka, Cikarang, dan Kawasan Industri Terpadu Batang.
Berdasarkan keterbukaan informasi, NAC menerima porsi pinjaman maksimal Rp1,5 triliun, sedangkan NGC mendapat fasilitas lebih besar hingga Rp2,5 triliun. Keduanya merupakan entitas anak yang bergerak di infrastruktur pusat data.
Alokasi dana kedua anak usaha berbeda lokasi. NAC memakai fasilitas untuk mengembangkan bisnis fasilitas data center di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi. NGC mengarahkan dananya untuk pembangunan dan pengembangan fasilitas data center di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah.
Fasilitas shareholder loan diberikan dengan bunga 7 persen per tahun. Tenor pinjaman berjalan hingga 31 Desember 2028, memberi ruang bagi kedua anak usaha menyelesaikan tahap konstruksi dan operasional awal sebelum kewajiban jatuh tempo.
Skema pinjaman pemegang saham lazim dipakai emiten infrastruktur digital untuk membiayai proyek padat modal tanpa harus menanggung biaya pendanaan bank yang lebih tinggi. Bunga 7 persen tergolong moderat dibanding rata-rata kredit investasi perbankan nasional.
Jababeka di Cikarang sudah lama dikenal sebagai kawasan industri dengan konektivitas listrik dan fiber optik mapan. Lokasi ini dekat dengan pusat permintaan data center di Jabodetabek, termasuk korporasi dan penyedia layanan cloud.
KITB di Batang menjadi pilihan kedua. Kawasan ini diproyeksikan pemerintah sebagai simpul industri baru di pantai utara Jawa, dengan pasokan listrik dari proyek pembangkit terbarukan di sekitarnya. Kehadiran data center di Batang sejalan dengan dorongan hilirisasi dan ekonomi digital di luar Jawa Barat.
Pinjaman ke dua anak usaha ini menyusul suntikan dana yang diterima MGLV dari pemegang saham pengendalinya, PT Nextier Datamate Center (NDC), dengan nilai yang sama, Rp4 triliun. Pola ini menunjukkan NDC menjadi sumber pendanaan utama di tingkat holding sebelum dana diteruskan ke entitas operasional.
Bagi investor, struktur berlapis semacam ini perlu dicermati dari sisi beban bunga di laporan keuangan konsolidasi. Selama proyek data center belum menghasilkan pendapatan berulang, bunga pinjaman akan membebani laba sebelum konstruksi selesai.
Permintaan kapasitas data center di Indonesia masih tumbuh seiring migrasi layanan ke cloud, kebutuhan penyimpanan data korporasi, dan pengembangan kecerdasan buatan. Pemain besar seperti penyedia menara telekomunikasi dan grup konglomerasi juga berlomba membangun fasilitas serupa.
Keberhasilan MGLV mengeksekusi dua proyek ini bergantung pada ketersediaan lahan, pasokan listrik, dan penyewa awal. Tanpa penyewa jangkar, tingkat hunian data center baru bisa lama terisi dan menekan imbal hasil.
Manajemen belum mengungkap target kapasitas megawatt maupun jadwal operasional komersial kedua fasilitas. Detail itu biasanya disampaikan dalam paparan publik atau laporan berkala berikutnya.