Sebanyak 5.000 peserta mengikuti temu wicara dan meditasi Tata Hati Indonesia di Yogyakarta, dengan 3.000 orang hadir langsung dan 2.000 lainnya mengikuti secara daring. Guru meditasi sekaligus pendiri Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) Bunda Arsaningsih menyatakan meditasi menjadi proses penting bagi seseorang yang tengah mencari solusi atas persoalannya. Kegiatan digelar tanpa biaya dan terbuka bagi masyarakat dari berbagai kota di Indonesia.
YOGYAKARTA — Antusiasme warga mengikuti kegiatan meditasi Tata Hati Indonesia di Yogyakarta cukup besar. Dari total pendaftar, sebanyak 3.000 peserta tercatat hadir langsung, sementara 2.000 peserta lain mengikuti sesi secara daring melalui zoom.
Pendiri Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) Bunda Arsaningsih menuturkan, tingginya partisipasi itu menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap ruang pemulihan batin yang selama ini jarang tersedia.
Yogyakarta dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Bunda Arsaningsih, kota ini dikenal sebagai kota pelajar dengan ritme hidup yang cepat sehingga tekanan hidup dirasakan warganya, terutama pelajar dan mahasiswa.
Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejumlah peserta datang dari kota lain di Indonesia untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang sama.
Bunda Arsaningsih menjelaskan, proses meditasi yang diajarkan dikenal dengan istilah 'ngelerem ati' atau menenangkan hati, sekaligus mengoreksi batin. Peserta diajak menggunakan energi atau daya batin untuk mengenali diri.
"Pengenalan diri itu dijalani melalui laku eling (sadar dan ingat), nerimo (menerima), dan waspodo (waspada). Dengan hati yang bersih, peserta diajak selalu eling dan melibatkan kekuatan Tuhan, apa pun agamanya. Proses ini disebut ngolah roso atau mengolah rasa," katanya.
Menurut dia, meditasi dipandang sebagai proses yang penting bagi semua orang, terutama saat seseorang sedang mencari solusi atas persoalannya.
Diskusi tentang kesehatan mental menurut Bunda Arsaningsih sudah banyak dilakukan di berbagai tempat. Namun, masih sedikit pihak yang menawarkan solusi konkret untuk mengatasinya.
Kondisi itu yang mendorong YCCK menghadirkan pendekatan meditatif sebagai tawaran solusi bagi masyarakat. Metode yang diajarkan dan dipandu langsung oleh guru meditasi berpengalaman tersebut tidak menuntut biaya atau perlengkapan khusus.
"Melalui Tata Hati Indonesia ini, kami mencoba membuka akses ruang pemulihan melalui meditasi, yang dapat diikuti masyarakat secara langsung maupun mengikuti secara daring melalui zoom, tanpa dipungut biaya," ujarnya.
Seluruh kegiatan YCCK diselenggarakan tanpa biaya karena diniatkan sebagai bentuk pelayanan. Peserta dapat melanjutkan praktik meditasi di rumah masing-masing tanpa perlengkapan khusus.
Setiap tahun, yayasan berupaya menggelar kegiatan berskala besar dengan jumlah peserta yang banyak agar dapat melayani masyarakat secara lebih luas.
"Melalui Tata Hati, kami menunjukkan kearifan lama tetap bisa dipraktikkan untuk menghadapi tekanan hidup hari ini," kata Bunda Arsaningsih.