DI YOGYAKARTA — Danantara Development Management Fund (DDMF) menegaskan transisi energi dan hilirisasi sebagai strategi utama Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Managing Director Development Investment DDMF, M. Rachmat Kaimuddin, menyampaikan pandangan itu pada BloombergNEF Forum Jakarta 2026. Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, naik 43,3 persen dari tahun sebelumnya.
Rachmat menjelaskan bahwa transisi energi bukan sekadar agenda pengurangan emisi. Baginya, peralihan ke energi bersih adalah jalan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong industrialisasi di dalam negeri.
"Transisi energi bagi Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan peluang untuk mencapai kemakmuran dan memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui transisi energi, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, meningkatkan nilai ekspor melalui hilirisasi, menarik investasi, serta menciptakan industri dan lapangan kerja baru yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian," ujar Rachmat dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).
Hilirisasi Sudah Menarik Investasi Rp584,1 Triliun
Gagasan Rachmat bukan tanpa dasar. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun. Angka itu tumbuh 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kontribusinya pun signifikan: 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional yang sebesar Rp1.931,2 triliun. Artinya, hampir sepertiga investasi yang masuk ke Indonesia berasal dari sektor hilirisasi.
Menurut Rachmat, Indonesia memiliki sumber daya alam dan pasar domestik yang besar untuk mengembangkan industri berbasis energi bersih. Namun kekayaan itu perlu diimbangi peningkatan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, dan pengembangan rantai pasok agar manfaat ekonominya lebih besar.
Peluang Ekonomi USD3,8 Triliun hingga 2050
Transisi energi juga membuka ruang bagi industri kendaraan listrik, baterai, pengolahan mineral, dan manufaktur pendukung. BloombergNEF lewat Indonesia Transition Factbook 2025 memperkirakan transformasi Indonesia menuju ekonomi dengan emisi nol bersih membuka peluang ekonomi senilai USD3,8 triliun hingga 2050.
Potensi sebesar itu menunjukkan besarnya peluang investasi yang tersedia, sekaligus menandakan perlunya penguatan kapasitas industri domestik agar nilai tambah tidak bocor ke luar negeri.
Ketergantungan Impor BBM Jadi Pekerjaan Rumah
Dari sisi ketahanan energi, elektrifikasi transportasi disebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang masih diimpor. Langkah itu perlu didukung peningkatan kapasitas pembangkit dan jaringan listrik, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun industri.
Bagi Indonesia, kombinasi transisi energi dan hilirisasi dipandang bukan hanya soal target iklim. Keduanya menjadi instrumen untuk menaikkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat posisi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.