BANTUL — Struktur tebing di bantaran sungai kawasan Kasihan, Kabupaten Bantul, dikabarkan sudah bergeser dan hanya mengandalkan perakaran pohon bambu sebagai penopang. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius akan terjadinya longsor susulan yang bisa menimpa pengguna Jalan Sembungan.
Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, saat meninjau lokasi, Kamis (30/7), menyebut potensi bahaya di titik tersebut sangat nyata. Peninjauan dilakukan bersama BPBD Bantul dan tokoh masyarakat untuk memeriksa keretakan struktur penopang jembatan serta ancaman pergerakan tanah lebih lanjut.
Jembatan di Jalur Padat Hanya Ditopang Akar Bambu
Eko menegaskan, kondisi tanah di bantaran sungai tersebut sangat labil. Yang lebih memprihatinkan, tebing yang ada saat ini tidak memiliki penguat struktural yang memadai, melainkan hanya bergantung pada akar pohon bambu.
"Kondisi struktur penopang dan tanah di kawasan bantaran sungai tergolong sangat labil dan sudah bergeser, tebing sungai hanya ditopang oleh perakaran pohon bambu. Ada potensi bahaya di tengah padatnya arus lalu lintas," ujarnya.
Oleh karena itu, langkah penanganan jangka pendek dinilai krusial. Tujuannya, mencegah kerusakan infrastruktur yang lebih parah sekaligus mengantisipasi jatuhnya korban jiwa di jalur yang ramai dilintasi warga tersebut.
Bupati Diminta Gerak Cepat Tangani Longsor Susulan
Desakan ini ditujukan langsung kepada pimpinan daerah. Eko berharap Bupati Bantul segera turun tangan tanpa menunggu permasalahan semakin meluas.
"Harapan saya Pak Bupati Bantul bisa cekat-ceket (gerak cepat) menyelesaikan ini untuk memastikan keselamatan warga sekitar dan pengguna jalan," kata Eko.
Komisi A DPRD DIY sendiri telah menjadwalkan rapat kerja dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) pada Senin mendatang. Rapat ini bertujuan merumuskan solusi teknis penanganan kawasan terdampak serta menyusun konsep "Sungai Aman Bencana".
Rapat Kerja Juga Bahas Kekeringan di Bantul, Gunungkidul, dan Sleman
Agenda rapat dengan BBWSO tidak hanya berhenti pada persoalan infrastruktur dan longsor. DPRD DIY juga akan mengoordinasikan penanganan dampak musim kemarau yang memicu kelangkaan air bersih di sejumlah wilayah.
Eko meminta pemerintah daerah memastikan kesiapan anggaran untuk mendukung mitigasi kekeringan. Hal ini dinilai penting agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi di tengah kondisi cuaca ekstrem.
"Mitigasi bencana diperlukan agar masyarakat tetap tercukupi kebutuhan air bersihnya. Pemda harus bergerak cepat sesuai kemampuan anggaran yang ada untuk mendukung mitigasi kekeringan," pungkasnya.