DI YOGYAKARTA — Jeda pertumbuhan tipis dari triwulan sebelumnya tak mengurangi optimisme pemerintah terhadap laju ekonomi nasional. Aktivitas produksi dan investasi dinilai tetap bergairah, tecermin dari impor barang modal dan bahan baku yang meningkat serta indeks manufaktur yang menunjukkan ekspansi.
“Pertumbuhan di triwulan II ini sedikit lebih rendah dibanding triwulan I, tetapi gairah ekonomi masih berjalan dengan baik. PMI sudah menunjukkan ekspansi, sementara impor barang modal dan bahan baku meningkat, yang menandakan aktivitas produksi dan investasi terus tumbuh,” ujar Juda Agung dalam wawancara program Top Economy Metro TV.
Deflasi Juli Bukan Tanda Daya Beli Melemah
Juda mematahkan kekhawatiran bahwa deflasi pada Juli 2026 merupakan sinyal melemahnya permintaan masyarakat. Penurunan indeks harga lebih banyak dipicu faktor musiman harga pangan dan komoditas global.
“Kalau dilihat data kemarin, deflasi itu lebih banyak disebabkan oleh penurunan harga pangan, khususnya bawang merah, dan juga harga emas yang turun. Ini tidak mengindikasikan bahwa permintaan masyarakat melemah, apalagi PMI juga mengalami kenaikan,” jelasnya.
Pemerintah tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 5,6 hingga 6,0 persen. Berbagai stimulus pada semester II, khususnya untuk sektor manufaktur dan industri otomotif, diharapkan mengerek kinerja lebih tinggi.
Penerimaan Negara Tumbuh 24 Persen, Ruang Fiskal Terbuka
Kesehatan APBN hingga semester pertama 2026 menjadi modal utama menjaga stabilitas. Penerimaan negara tumbuh signifikan, memberi ruang bagi belanja yang lebih besar tanpa mengorbankan disiplin fiskal.
“Dari sisi penerimaan negara ada kenaikan sekitar 24 persen. Hal ini membuka ruang fiskal sehingga belanja negara juga dapat tumbuh sekitar 17 persen. Sementara defisit APBN hingga Juni 2026 masih berada di level 0,76 persen terhadap PDB, yang menunjukkan fiskal Indonesia tetap terjaga dan dikelola secara prudent,” ungkapnya.
Pengelolaan yang hati-hati ini berbanding lurus dengan kepercayaan investor. Peringkat kredit Indonesia di tingkat internasional tetap terjaga, dan minat terhadap surat berharga negara serta instrumen pembiayaan pemerintah masih tinggi.
“Artinya kita mampu tumbuh tinggi tanpa mengorbankan stabilitas. Inflasi tetap terkendali, fiskal sehat, dan ekonomi mampu tumbuh di atas 5 persen. Inilah yang menjadi fondasi kepercayaan investor terhadap Indonesia,” tambah Juda.
Arah Fiskal 2027: Ekspansif tapi Terukur
Menjelang penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027, pemerintah menegaskan APBN tetap menjadi instrumen utama pendorong pertumbuhan. Kebijakan fiskal tahun depan akan bersifat ekspansif untuk memperkuat investasi, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga daya beli, namun dengan defisit yang semakin terkendali.
“Intinya, pada tahun 2027 kita tetap melakukan ekspansi fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi dengan pengelolaan yang terukur dan tetap menjaga kesehatan APBN,” pungkas Juda Agung.