GUNUNGKIDUL — Ribuan warga di delapan kapanewon Gunungkidul mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Pemerintah kabupaten langsung mengaktifkan skema pendanaan darurat untuk mengejar distribusi air ke titik-titik rawan kekeringan.
Bupati Endah Subekti Kuntariningsih menyatakan, seluruh kapanewon telah berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk mengeluarkan anggaran dropping air. Proses identifikasi titik rawan pun sudah dimulai oleh Kapolsek, Koramil, dan Panewu di masing-masing wilayah.
"Hari ini beberapa panewu sudah melaporkan, bahkan Pak Kapolres juga sudah memberikan laporan bahwa Kapolsek dan Koramil, Panewu ini sudah mulai mengidentifikasi titik-titik rawan dengan di-dropping air bersih," ujar Endah di Kompleks Kepatihan Jogja, Kamis (30/7/2026).
Endah menjelaskan, anggaran penanganan kekeringan tidak hanya bersumber dari BPBD yang mencapai hampir Rp 500 juta. Dana juga dialokasikan di tingkat kapanewon dan ditopang BTT agar penanganan di lapangan tidak terhambat.
"Jadi anggaran untuk dropping air bersih itu kami cantolkan di kecamatan atau kapanewon, Badan Penanggulangan Bencana, dan kami ada BTT (Belanja Tidak Terduga) juga. Nah, sehingga ini untuk bisa melaksanakan anggaran yang sudah ada. Jadi jangan sampai pemerintah kalah duluan dengan pihak-pihak lain," terangnya.
Masing-masing kapanewon telah menyiapkan anggaran untuk pendistribusian lebih dari 100 tangki air. Kapanewon Tepus, Rongkop, Panggang, Paliyan, dan Ponjong sudah melaporkan progres dropping. "Ponjong ini tadi Ibu Panewu sudah melaporkan sudah dropping 50 tangki. Kemudian di Panggang, Saptosari juga sudah lebih dari 50 tangki," ungkap Endah.
Pemkab juga menggandeng Baznas untuk menyediakan penampungan air berkapasitas 5.000 liter di sejumlah titik rawan. Penampungan ini diharapkan memudahkan warga yang tidak memiliki tempat penyimpanan air sehingga tidak perlu mencari sumber air yang lokasinya jauh.
"Bahkan kemarin kita menggandeng pihak-pihak lain yang sah seperti Baznas membantu, ini untuk tahun yang pertama, membantu penampungan air. Jadi di titik-titik tertentu ada 5.000 liter penampungan air sehingga nanti dropping-nya di penampungan itu. Supaya warga yang tidak punya penampungan itu bisa mengakses," katanya.
Menurut Endah, dampak kemarau tahun ini lebih berat dibanding tahun lalu karena musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang. Selain kesulitan air bersih, sejumlah sumber air PDAM dan lahan pertanian juga mulai terdampak.
Meski demikian, Bupati memastikan kemampuan fiskal daerah untuk menangani kekeringan masih mencukupi. "Insyaallah masih bisa tertangani. BTT masih utuh, dana di Badan Penanggulangan Bencana juga masih. Akan kita dropping yang anggaran di masing-masing kapanewon," pungkasnya.