JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan akhirnya merealisasikan rencana panjang untuk menghadirkan kembali Rumah Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat. Bangunan yang rata dengan tanah sejak era Presiden Soekarno pada Agustus 1960 itu akan direkonstruksi menyerupai bentuk aslinya dan dilengkapi fungsi baru sebagai museum.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa proses pembangunan mengacu pada bentuk arsitektur asli rumah yang menjadi saksi pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. "Kita akan bangun kembali, persis sama, tetapi tidak dengan selasarnya," kata Fadli dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Rumah Proklamasi awalnya merupakan kediaman Soekarno yang digunakan untuk pembacaan teks proklamasi. Namun, bangunan tersebut dirobohkan pada era Presiden Soekarno sekitar bulan Agustus 1960. Kini, lokasi bersejarah itu telah berganti fungsi menjadi Tugu Petir serta Gedung Pola.
Rencananya, di atas lahan tersebut akan berdiri replika bangunan asli yang tidak hanya menjadi monumen, tetapi juga difungsikan sebagai museum proklamasi. Museum ini akan menyajikan proses penyusunan naskah proklamasi, dokumentasi foto, hingga momen pembacaan Proklamasi Kemerdekaan.
Kementerian Kebudayaan tidak hanya membangun replika fisik, tetapi juga menghadirkan atraksi berupa ruang imersif di dalam museum. Suasana yang disesuaikan dengan era masa pembacaan naskah proklamasi diharapkan dapat memperdalam pemahaman pengunjung mengenai sejarah.
Upaya ini menjadi langkah pemerintah untuk membangkitkan memori bangsa dan memastikan sejarah Indonesia senantiasa dipahami oleh generasi muda. Fadli menyebut museum merupakan bagian dari pusat edukasi hingga ruang budaya yang harus terus mengikuti perkembangan zaman.
Dalam kesempatan yang sama, Fadli mengungkapkan salah satu inisiatif Kementerian Kebudayaan untuk meningkatkan kunjungan museum adalah meluncurkan museum passport. Paspor ini bisa dicap dengan beragam stempel unik di museum yang berada di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan.
"Dalam waktu singkat, 20.000 buku paspor museum itu terjual, itu dijual bukan dibagi-bagi gratis ya. Kalau tidak salah sampai 83.000 harganya. Tapi ternyata gen Z kita luar biasa antusiasme kepada museum," ujarnya.
Proses rekonstruksi Rumah Proklamasi melibatkan arsitek dan tokoh sejarah agar menghasilkan bangunan yang simetris dan akurat. Dengan target penyelesaian akhir tahun ini, pemerintah berharap museum ini dapat menjadi destinasi edukasi sejarah yang menarik bagi masyarakat luas.