BANTUL — Gelombang pasokan sayur dan buah dari sentra produksi di lereng Merapi dan kawasan lain membuat harga di pasar tradisional DIY turun cukup dalam. Data resmi BPS DIY menunjukkan laju deflasi 0,31 persen pada Juli 2026, sebuah angka yang jarang terjadi di tengah musim kemarau.
Penurunan harga ini bukan hanya terjadi di pasar induk, tetapi juga merata di pasar-pasar kabupaten/kota. Pedagang di Pasar Niten, Bantul, mengaku harga komoditas seperti cabai, tomat, dan sayuran daun turun drastis dalam dua pekan terakhir.
Kepala BPS DIY menjelaskan bahwa faktor utama pendorong deflasi adalah sisi suplai yang berlebih. Panen raya hortikultura di sejumlah kabupaten berlangsung serentak, sehingga pasokan ke pasar melebihi permintaan konsumen.
Komoditas penyumbang deflasi terbesar adalah kelompok sayuran dan buah-buahan. Kondisi ini otomatis meringankan beban belanja rumah tangga, terutama bagi ibu-ibu yang biasa berbelanja mingguan di pasar tradisional.
Pantauan di Pasar Niten, Bantul, pada Rabu (5/8/2026) menunjukkan aktivitas jual beli tetap ramai. Namun, para pedagang mengeluhkan nilai transaksi yang menurun karena harga jual yang tipis.
“Harga di tingkat petani juga sudah turun, jadi kami tidak bisa berbuat banyak. Yang penting dagangan laku,” ujar seorang pedagang sayur di lokasi. Ia menambahkan bahwa cabai rawit yang sempat menyentuh harga tinggi kini sudah turun lebih dari separuhnya.
Deflasi bulanan ini ikut mempengaruhi laju inflasi tahunan DIY. Dengan penurunan harga pangan yang signifikan, tekanan inflasi inti tetap terkendali meskipun ada kenaikan harga di sektor lain seperti transportasi dan pendidikan.
Ekonom melihat deflasi ini sebagai momentum positif bagi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Belanja kebutuhan pokok yang lebih murah memberi ruang fiskal bagi rumah tangga untuk membelanjakan uangnya di sektor lain.
Pertanyaan yang kini mengemuka di kalangan pelaku pasar adalah seberapa lama tren deflasi ini akan bertahan. Jika musim panen berakhir dan pasokan menyusut, harga berpotensi kembali merangkak naik pada Agustus atau September.
BPS DIY mencatat bahwa volatilitas harga pangan masih menjadi tantangan utama pengendalian inflasi di daerah. Pemerintah daerah diharapkan terus memantau distribusi agar harga di tingkat konsumen tetap stabil.
Petani dan pedagang berharap ada intervensi untuk menyerap kelebihan pasokan, misalnya melalui operasi pasar atau kerja sama dengan daerah lain. Tanpa itu, harga di tingkat petani bisa jatuh lebih dalam dan merugikan produsen.