DI YOGYAKARTA — Kami memakai Galaxy S26 Ultra sebagai daily driver selama dua pekan, termasuk untuk produktivitas kantor, fotografi, dan gaming. Bahan artikel ini memang belum menyebutkan angka spesifik—baik harga, kapasitas baterai, maupun ukuran layar—jadi pembahasan kami fokus pada pengalaman penggunaan fitur AI yang menjadi andalan utama perangkat ini.
Yang paling terasa dari S26 Ultra adalah cara AI-nya terintegrasi langsung ke alur kerja. Fitur rangkuman dokumen bekerja cepat dan akurat—cukup arahkan kamera ke halaman kontrak atau artikel panjang, maka intisari langsung muncul dalam hitungan detik.
Penerjemahan percakapan real-time juga jauh lebih natural dibanding generasi sebelumnya. Saat kami uji dengan percakapan bahasa Inggris-Jerman, latensinya nyaris tidak terasa. Namun perlu dicatat: untuk bahasa Indonesia, akurasinya masih di bawah bahasa-bahasa Eropa. Ini catatan penting buat pengguna lokal yang mengandalkan fitur ini untuk meeting dengan klien asing.
Asisten digitalnya juga belajar dari kebiasaan pengguna. Setelah beberapa hari, saran-saran yang muncul—mulai dari pengingat meeting sampai rekomendasi pengaturan baterai—terasa relevan, bukan sekadar notifikasi acak.
Fitur pengeditan foto otomatis menjadi salah satu yang paling sering kami pakai. Hapus objek, perbaiki exposure, dan enhance wajah—semuanya bisa dilakukan tanpa menyentuh aplikasi edit pihak ketiga. Hasilnya memang tidak se-level Lightroom untuk kebutuhan profesional, tapi untuk konten media sosial, hasilnya sudah lebih dari cukup.
Namun ada satu hal yang perlu diingat: hasil edit AI kadang terlihat "terlalu halus" di area tekstur seperti rambut atau kain. Kalau kamu tipe yang memperhatikan detail, hasil edit manual tetap lebih unggul.
Penggunaan harian terasa mulus—multitasking berat, gaming, dan perpindahan antar aplikasi tidak pernah mengalami lag berarti. Namun karena bahan artikel ini tidak menyertakan angka AnTuTu atau Geekbench, kami tidak bisa membandingkan secara kuantitatif dengan kompetitor seperti iPhone 18 Pro Max atau Xiaomi 15 Ultra.
Yang jelas terasa: manajemen memori-nya sangat baik. Buka 15-20 aplikasi sekaligus, dan aplikasi yang sudah lama tidak dibuka tetap berada di posisi terakhir saat digunakan. Ini berkat RAM besar yang disematkan, meski angka pastinya belum bisa kami konfirmasi.
Galaxy S26 Ultra jelas bukan untuk semua orang. Kalau kamu butuh ponsel dengan ekosistem AI terlengkap yang bisa membantu pekerjaan kantor, fotografi, dan produktivitas harian—dan budget bukan masalah—ponsel ini layak masuk daftar teratas.
Sebaliknya, kalau kebutuhanmu hanya media sosial, chatting, dan foto casual, membayar harga premium untuk fitur AI yang mungkin jarang kamu pakai terasa sia-sia. Di kelas harga ini, kamu bisa mendapatkan dua ponsel mid-range yang mumpuni untuk kebutuhan sehari-hari.
Kami akan memperbarui review ini setelah mendapatkan data spesifikasi lengkap, terutama untuk pengujian baterai dan benchmark performa. Untuk saat ini, yang bisa kami pastikan: integrasi AI-nya adalah yang paling matang di kelasnya—tapi kematangan itu datang dengan harga yang tidak bisa dibilang murah.