YOGYAKARTA — Langkah strategis ini menyasar kelompok pekerja informal yang selama ini rentan terhadap risiko kecelakaan kerja dan kematian, mulai dari pedagang kaki lima (PKL) Teras Malioboro, Koperasi Andong Wisata, Paguyuban Andong Sidomuncul, PKL Pasar Senthir, hingga juru parkir dan petugas keamanan setempat.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Yogyakarta Rudi Susanto menyebut kolaborasi ini bertujuan memberikan edukasi sekaligus kepastian perlindungan bagi mereka yang bekerja di sektor informal. Ia menekankan bahwa rasa aman tersebut menjadi modal penting agar pelaku usaha bisa bekerja tenang tanpa dibayangi risiko finansial saat terjadi kecelakaan.
Acara penyerahan kartu kepesertaan itu dirangkaikan dengan penandatanganan dan pembacaan Deklarasi Jejaring Tepo Seliro Sumbu Filosofi Jogja. Jejaring ini dibentuk sebagai wadah kolaborasi lintas elemen untuk membangun kebersamaan, komunikasi, dan kepedulian antar-pelaku kawasan.
Koordinator Tepo Seliro Kamarudin Souwakil menjelaskan bahwa semangat gotong royong dan nilai budaya tepo seliro menjadi fondasi utama jejaring ini. Harapannya, komitmen bersama ini mampu mewujudkan kawasan Sumbu Filosofi yang aman, nyaman, dan kondusif bagi wisatawan, sekaligus memberikan kepastian manfaat perlindungan ekonomi bagi warga setempat.
"Kami berkomitmen mendorong terciptanya kawasan yang tidak hanya aman dan nyaman bagi wisatawan, tetapi juga memberikan perlindungan dan manfaat bagi masyarakat serta pelaku ekonomi," kata Rudi Susanto dalam keterangannya.
Kerja sama ini menjadi sinyal positif bagi pengelolaan kawasan cagar budaya yang juga merupakan pusat aktivitas ekonomi. Dengan adanya jaminan sosial ketenagakerjaan, para pelaku usaha tidak hanya terlindungi secara ekonomi, tetapi juga diharapkan lebih fokus menjaga keberlanjutan kawasan.
"Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, kami siap untuk menjaga keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta," tutup Kamarudin Souwakil.