DI YOGYAKARTA — Everglades, ekosistem rawa subtropis terpencil di Florida Selatan, sedang darurat. Spesies invasif dari Asia Tenggara ini telah menguasai rantai makanan dan mengancam keanekaragaman hayati di wilayah yang hanya terputus oleh beberapa jalan raya dari peradaban Amerika itu.
Data South Florida Water Management District (SFWMD) menunjukkan penurunan drastis populasi mamalia antara 1997 hingga 2012. Rakun turun 99,3 persen, oposum 98,9 persen, dan kucing hutan 87,5 persen. Kelinci rawa, kelinci ekor kapas, dan rubah dilaporkan hilang total dari area tersebut.
Studi dengan pemancar radio pada kelinci yang dilepas ke Everglades menemukan fakta brutal: 77 persen kematian dalam setahun disebabkan lilitan piton. "Kami menemukan burung air di perut piton. Kami juga menemukan rusa," ujar Rory Feeney, kepala SFWMD.
Piton Burma awalnya dibawa ke AS sebagai hewan peliharaan eksotis saat perdagangan satwa melonjak di era 1980-an. Miami menjadi pusat ribuan ular jenis ini. Sebagian pemilik yang tidak bertanggung jawab melepaskannya ke alam liar.
Pakar meyakini populasi liar mulai terbentuk setelah Badai Andrew menghantam Florida pada Agustus 1992. Fasilitas penangkaran piton hancur, melepaskan ular dalam jumlah tak terhitung ke rawa-rawa terdekat.
Piton betina mampu bertelur 50 hingga 100 butir per tahun dan tidak memiliki predator alami di Florida. Kemampuan adaptasinya membuat reptil ini nyaris mustahil dihilangkan sepenuhnya.
"Habitat Everglades sempurna. Udaranya hangat, mereka dapat hidup sangat baik di habitat berlumpur dan berawa dan ada sumber makanan melimpah yang sama sekali belum beradaptasi menghadapi mereka. Tidak ada satu hal pun yang menghalangi mereka berkembang biak," kata Daniel Simberloff, ahli biologi University of Tennessee.
Jumlah pasti populasi piton tidak diketahui karena luasnya area dan kamuflase alami ular cokelat ini di semak belukar. "Jumlahnya bisa puluhan ribu, bahkan ratusan ribu," tambah Feeney.
Otoritas negara bagian dan federal menjadikan kepemilikan piton sebagai hewan peliharaan ilegal pada 2010. Tujuh tahun kemudian, Program Eliminasi Piton diluncurkan dengan mempekerjakan pemburu bayaran. Mereka digaji upah minimum plus bonus tambahan berdasarkan panjang ular yang ditangkap.
Kompetisi tahunan berburu piton berhadiah juga digelar untuk menarik partisipasi publik. Program ini berhasil menyingkirkan ribuan ular, namun diyakini hanya sebagian kecil dari populasi total.
Feeney tetap optimistis karena setengah dari ular yang tertangkap adalah betina. "Setiap ular betina yang disingkirkan adalah langkah ke arah yang benar," katanya.
Ilmuwan tengah mengeksplorasi taktik agresif melalui rekayasa genetik. Secara teoritis, gen dapat dimodifikasi untuk membuat keturunan pejantan pembawa gen terlahir jantan atau menyebabkan keturunan betina mati. Namun hingga teknologi tersebut berhasil dikembangkan, piton Burma diprediksi akan terus mengancam satwa liar Florida.