Pencarian

Omzet Pedagang Kuliner Pasar Terban Jogja Anjlok Usai Revitalisasi, Kurang Promosi Dituding Jadi Biang Kerok

Sabtu, 01 Agustus 2026 • 11:46:15 WIB
Omzet Pedagang Kuliner Pasar Terban Jogja Anjlok Usai Revitalisasi, Kurang Promosi Dituding Jadi Biang Kerok
Pedagang kuliner Pasar Terban Yogyakarta melayani pembeli di kios baru seusai revitalisasi, Jumat (31/7/2026).

YOGYAKARTA — Pemandangan kontras terlihat di Pasar Terban, Kota Yogyakarta, Jumat (31/7/2026) sore. Di dalam gedung baru yang megah, sejumlah lapak kuliner di lantai 3 tampak sepi pembeli. Padahal, sebelum direvitalisasi, para pedagang ini tak pernah kehabisan pelanggan saat mangkal di trotoar Jalan Kahar Muzakir.

Tri Nurwati, pedagang nasi rames dan mangut lele, menjadi salah satu yang merasakan dampak paling berat. Bersama suaminya, Santoso, ia berjualan di trotoar sisi timur pasar sejak 2003. Kini, omzet hariannya jauh dari angka Rp 2 juta yang biasa ia raih di lokasi lama.

"Omzet jauh banget, di sini itu seperti kita mulai awal, babat alas. Di sana itu paling ndak sehari Rp 2 juta nyampe, kalau di sini belum," ujar Nur saat ditemui di lapaknya.

Strategi Bertahan di Lokasi Baru: Tarik Pelanggan Lewat WhatsApp

Alih-alih larut dalam keluhan, Nur memilih mengatur ulang sirkulasi keuangan belanjaan agar tidak tekor. Ia juga mengandalkan basis pelanggan setianya yang dulu rutin membeli makanan setiap hari.

Siasat jitu datang dari anaknya yang membuat video penunjuk arah dari lokasi lama menuju kios baru di dalam pasar. Video itu disebar melalui status WhatsApp dan terbukti efektif menarik pelanggan lama untuk kembali.

"Sama anak saya dibikin video ya, arah ke sini. Dari sana jalan kakinya ke sini itu, terus halaman naik ke tangga sampai sini. Saya bikin status WhatsApp, jadi banyak yang ikut, oh ternyata deket," papar Nur.

Santoso, suami Nur, memilih berpikir jangka panjang. Ia yakin lokasi Pasar Terban yang strategis di pusat kota akan menjadi magnet pembeli, terutama setelah program penataan trotoar kota selesai pada 2027 nanti.

"Namanya babat alas kan ndak langsung ramai to, kita menghidupkan dulu kan. Kampus deket kos-kosan banyak toko banyak, kalau besok pinggir jalan bersih orang mau cari makan di mana?" ujar Santoso.

Pedagang 26 Tahun: Omzet Tersisa 30 Persen, Tambah Menu Jadi Andalan

Nasib serupa dialami Yani, pedagang lotek dan gado-gado yang telah berjualan di trotoar selama 26 tahun. Ia mengaku hanya sekitar 30 persen pelanggan lamanya yang berhasil menemukan lokasi barunya di dalam pasar.

"Sejak masuk sini jauh (menurun omzet), sepertiga dari omzet lama itu nggak ada," ungkap Yani.

Untuk menyiasati sepinya pembeli, Yani mulai menambah variasi menu seperti soto dan mie instan. Ia berharap dengan banyak pilihan, pengunjung yang datang tetap bisa membeli meski selera mereka berbeda.

"Di sini saya tambah ini, soto, mie instan, macem-macem, pengin biar payu to mas jadi kita mencoba tambah menu," sambungnya.

Harapan untuk Pemkot Yogyakarta: Genjot Promosi dan Gelar Event

Di balik semangat berinovasi, Yani menyuarakan harapan besar kepada Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM atau instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Menurutnya, perjuangan pedagang akan sia-sia tanpa dukungan promosi dari pemerintah.

"Ya kalau dari pedagang sebenarnya juga pengin banget dipromosikan dari dinas, mungkin ada event, karena selama ini masih kurang to promosinya. Jadi banyak yang belum tahu, dari depan aja banyak yang belum tahu kalau ini pasar," harapnya.

Yani menegaskan bahwa para pedagang tetap berkomitmen bertahan di lokasi baru. "Saya berpikir positif aja, harapannya pasar Terban ini jadi ramai. Jadi masih tetep bertahan walau penuh perjuangan," ujarnya.

Follow www.jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks