Pencarian

Teater Koma Pentaskan Lakon Rumah Sakit Jiwa di Yogyakarta Usai 35 Tahun, Angkat Kritik Kekuasaan dan Kemanusiaan

Jumat, 31 Juli 2026 • 22:01:01 WIB
Teater Koma Pentaskan Lakon Rumah Sakit Jiwa di Yogyakarta Usai 35 Tahun, Angkat Kritik Kekuasaan dan Kemanusiaan
Pementasan Teater Koma berjudul "Rumah Sakit Jiwa" digelar di Yogyakarta setelah 35 tahun, mengangkat kritik kekuasaan dan kemanusiaan.

YOGYAKARTA — Lakon Rumah Sakit Jiwa garapan Teater Koma resmi digelar di Yogyakarta, menandai kembalinya naskah monumental karya almarhum N. Riantarno ke panggung setelah 35 tahun. Pementasan yang berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation ini tidak sekadar mengulang masa lalu, melainkan menghadirkan interpretasi artistik baru yang relevan dengan isu kesehatan mental masa kini.

Naskah yang sama saat pertama kali dipentaskan pada 1991 ini kini dikemas dengan pendekatan visual, musik, dan pendalaman karakter yang lebih modern. Sutradara Rangga Riantiarno menyebut proses kreatifnya tidak berhenti pada pembacaan naskah, melainkan melibatkan riset mendalam agar setiap tokoh dibangun berdasarkan empati yang utuh terhadap isu kejiwaan.

Kisah Dokter Rogusta Melawan Aturan Kaku di RSJ

Lakon ini berkisah tentang dokter baru bernama Rogusta yang bertugas di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarta. Rogusta datang dengan pengalaman menyembuhkan pasien melalui pendekatan humanis, penuh empati, dan persahabatan, berharap bisa menerapkan metode serupa di tempat tugas barunya.

Namun, niat baik itu langsung berbenturan dengan aturan ketat yang diterapkan Profesor Sidarta. Konflik pun tak terhindarkan, terutama ketika sejumlah pekerja di rumah sakit tersebut merasa posisinya terancam oleh kehadiran Rogusta dan cara pandangnya yang berbeda.

Pertunjukan ini mengajak penonton merefleksikan pertanyaan mendasar: mampukah manusia memperlakukan sesamanya sebagai manusia, bahkan ketika mereka berstatus pasien gangguan jiwa? Rumah sakit jiwa dalam lakon ini menjadi metafora relasi antarmanusia yang dipenuhi ketakutan, prasangka, dan perebutan kekuasaan.

Panggung Bertingkat Jadi Metafora Hierarki Kekuasaan

Kehadiran tata panggung, tata cahaya, musik, multimedia, dan rancangan kostum membuat lakon ini semakin hidup. Tata panggung menghadirkan permainan level dengan struktur bertingkat dan tangga yang menjadi metafora hubungan antartokoh, sekaligus merepresentasikan jarak, hierarki, dan dinamika kuasa antara dokter dan pasien di RSJ.

Komposisi musik garapan Fero A. Stefanus disebut mampu menghadirkan emosi di setiap adegan, memperkuat ketegangan psikologis yang dibangun para pemain di atas panggung. Sementara itu, Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang kostum yang tidak hanya merepresentasikan profesi masing-masing tokoh, tetapi juga mengekspresikan kondisi kejiwaan dan dinamika psikologis mereka sepanjang pertunjukan.

Lahir dari Pengalaman Pencekalan di Era 1990-an

Naskah Rumah Sakit Jiwa lahir dari diskusi internal Teater Koma setelah kelompok ini mengalami sejumlah pencekalan pementasan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Karya ini menjadi salah satu respons kreatif terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat pada masa itu.

Untuk produksi kali ini, para pemain tidak hanya mengandalkan pembacaan naskah. Mereka melakukan observasi langsung ke rumah sakit jiwa, berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater, serta memperdalam berbagai referensi mengenai kesehatan mental. Langkah ini ditempuh agar setiap karakter yang dimainkan lahir dari pemahaman yang utuh, bukan sekadar akting permukaan.

Lewat pementasan ini, Teater Koma ingin menunjukkan bahwa persoalan kemanusiaan yang diangkat dalam lakon Rumah Sakit Jiwa tetap relevan di setiap zaman. Perubahan teknologi dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental justru membuat pesan dalam naskah ini terasa semakin mendesak untuk disimak.

Follow www.jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radiostar.harianjogja.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks