Pencarian

Target Surplus Padi Bantul 100 Ribu Ton pada 2026, DKPP Minta Petani Perpendek Jeda Tanam

Selasa, 04 Agustus 2026 • 08:24:31 WIB
Target Surplus Padi Bantul 100 Ribu Ton pada 2026, DKPP Minta Petani Perpendek Jeda Tanam
Kepala DKPP Bantul Joko Waliyo menargetkan surplus padi 100 ribu ton pada 2026 dengan luas tanam 35 ribu hektare.

BANTUL — Optimisme itu disampaikan Kepala DKPP Bantul Joko Waliyo pada Senin. Ia mengatakan, target tersebut realistis karena realisasi luas tanam padi pada semester I 2026 sudah cukup tinggi, meski ia tidak menyebutkan angka pastinya.

"Di pertengahan tahun kemarin di semester I sudah cukup tinggi walaupun saya lupa angkanya, tapi harapan kami di akhir tahun tercapai," ujarnya.

Rekor Luas Tanam Jadi Modal Utama

Joko menjelaskan, luas tanam padi di Bantul mulai mencetak rekor pada 2025 dengan mencapai sekitar 32 ribu hektare. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Selama ini, luas tanam padi di Bantul paling tinggi 32 ribu hektare," katanya.

Untuk mencapai target 100 ribu ton surplus, DKPP menargetkan luas tanam padi tahun 2026 seluas 35 ribu hektare. Angka ini lebih luas 1 ribu hektare dibandingkan realisasi tahun lalu.

Strategi Percepatan Masa Tanam

Salah satu kunci untuk mencapai target tersebut adalah mempercepat siklus tanam. Joko mengimbau para petani untuk memangkas jeda waktu antara panen dan penanaman berikutnya.

"Jarak yang biasanya setelah panen itu tanam padinya sebulan kemudian, dapat diperpendek jadi 15 sampai 20 hari," ujarnya.

Dengan pola ini, intensitas pertanaman dalam satu tahun bisa ditingkatkan. Hal ini dinilai penting untuk menggenjot produksi di tengah keterbatasan lahan.

Konsumsi Beras Warga Bantul Menurun

Di sisi lain, DKPP mencatat adanya tren penurunan konsumsi beras masyarakat Bantul. Perubahan pola konsumsi ini turut mempengaruhi proyeksi surplus beras daerah.

"Dulu konsumsi beras 84 kg per kapita per tahun, tapi sekarang 62,54 kg per kapita per tahun," kata Joko.

Menurut dia, sebagian masyarakat mulai beralih ke sumber karbohidrat alternatif seperti umbi-umbian dan sorgum. Faktor kesehatan, seperti diabetes, juga disebut menjadi alasan sebagian warga mengurangi porsi nasi harian mereka.

"Mungkin faktornya juga ada yang mengurangi karena diabetes, ada juga yang mulai beralih ke umbi-umbian," ujarnya.

Penurunan konsumsi ini menjadi catatan tersendiri bagi pemkab. Selain fokus pada produksi, pemerintah juga terus memantau dinamika kebutuhan pangan warganya.

Follow www.jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks